RAGAM BAMBU DAN KAYU KENTONGAN: SEBUAH KAJIAN ETNOBOTANI DI JAWA, BALI, DAN LOMBOK

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Emma Sri Kuncari
Marwan Setiawan

Abstrak

Kentongan dikenal sebagai salah satu alat komunikasi tradisional yang memanfaatkan bambu dan kayu. Sebagian masyarakat Indonesia masih mengenal dan menggunakan kentongan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi seperti saat ini. Studi etnobotani dilakukan untuk mengkaji lebih mendalam tentang kearifan lokal masyarakat mengenai kentongan. Metode yang digunakan berupa observasi di beberapa wilayah di Indonesia dan wawancara secara acak terpilih. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil kajian diperoleh data keanekaragaman jenis bambu dan kayu kentongan yaitu bambu ori (Bambusa blumeana Schult.f.), bambu petung (Dendrocalamus asper (Schult.) Backer), bambu apus (Gigantochloa apus (Schult.) Kurz), bambu wulung (G. atroviolacea Widjaja), kayu nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.), kayu jati (Tectona grandis L.f.), kayu kelapa (Cocos nucifera L.), kayu mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.), dan kayu sengon (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.). Ukuran dan bentuk fisik kentongan bervariasi. Nilai-nilai sosial dan religius kentongan sejalan dengan perkembangan zaman, serta penyelamatan nilai budaya dan konservasi keanekaragaman hayati bahan baku kentongan agar tidak terkikis perubahan zaman. Dengan demikian, masyarakat masih menggunakan kentongan secara lestari untuk mengatur pola hidup kebersamaan dalam masyarakat.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

Cara Mengutip
Kuncari ES, Setiawan M. 2021. RAGAM BAMBU DAN KAYU KENTONGAN: SEBUAH KAJIAN ETNOBOTANI DI JAWA, BALI, DAN LOMBOK. Buletin Kebun Raya 24(2): 85-92. https://doi.org/10.14203/bkr.v24i2.731

Referensi

  1. Akram M, Aftab F. 2007. In vitro micropropagation and rhizogenesis of teak (Tectona grandis L.). Pakistan Journal of Biochemistry and Molecular Biology 40(3): 125–128.
  2. Anonim. 2014. "Coconut botany". Agritech Portal, Tamil Nadu Agricultural University. December 2014. (diakses 28 Agustus 2021).
  3. Anonim. 2020a. Mengenal alat komunikasi tradisional dan modern. https://qwords.com/blog/mengenal-alat-komunikasi-tradisional-dan-modern. (diakses 12 November 2020).
  4. Anonim. 2020b. Kentongan. https://sejarahharirayahindu. blogspot.com/2011/12/ kentongan.html. (diakses 16 Juli 2020).
  5. Anonim.. 2020c. Humas Universitas Jambi: Kerusakan alam dan etika pembangunan. https://www.unja.ac.id/ 2020/05/06/kerusakan-alam-dan-etika-pembangunan/. (diakses 30 Juli 2021).
  6. Bakker Sj JWM. 1992. Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar. Kanisius, Yogyakarta.
  7. Dransfield S, Widjaja EA. 1995. Bamboos. Plant Resources of South East Asia (PROSEA) 7. Backhuys Publisher, Leiden.
  8. Hettiaratchi UPK, Ekanayake S, Welihinda J. 2011. Nutritional assessment of jackfruit (Artocarpus heterophyllus) Meal. Ceylon Medical Journal 56: 54–58.
  9. Komor P, Devi OS. 2016. Edible bioresources and livelihoods: Artocarpus heterophyllus Lam. Assam State Biodiversity Board, Guwahati, India In: India Biodiversity Portal, Species Page: Artocarpus heterophyllus Lam. https://indiabiodiversity.org/ biodiv/species/show/8042 (Accessed 27 Agustus 2021)
  10. Larasati MD. 2018. Pohon Mahoni: taksonomi, habitat, budidaya, dan manfaat. https://foresteract.com/ pohon-mahoni-taksonomi-habitat-budidaya-dan-manfaat (diakses 27 Agustus 2021).
  11. Martin GJ. 1995. Ethnobotany: A Methods Manual. Chapman & Hall, London.
  12. Muryanto. 2020. Tak ada pohon ini, Ngawi tidak pernah ada dalam sejarah. https://sambiroto.ngawikab.id/ tag/manfaat-bambu/. (diakses 25 Maret 2021).
  13. Orwa C, Mutua A, Kindt R, Jamnadass R, Anthony S. 2009. ICRAF Agroforestry Tree Database: Albizia chinensis (Osbeck) Merril. http://apps. worldagroforestry.org/treedb/AFTPDFS/Albizia_chinensis.pdf (diakses 27 Agustus 2021).
  14. Pandit IKN, Kurniawan D. 2008. Anatomi Kayu: Struktur Kayu, Kayu Sebagai Bahan Baku dan Ciri Diagnostik Kayu Perdagangan Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  15. Paramudita L. 2014. Perilaku komunikasi masyarakat pada tradisi nyadranan (bersih desa) di Desa Karang Tengah, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Skripsi. Fakultas Dakwah Dan Komunikasi, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.
  16. Prihatman K. 2000. Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk). Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesaan. BAPPENAS. Jakarta.
  17. Pudjiono. 2014. Produksi Bibit Jati Unggul (Tectona grandis L.f.) Klon dan Budidayanya. Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.
  18. Rachman M. 2012. Konservasi nilai dan warisan budaya. Indonesian Journal of Conservation 1: 30–39.
  19. Sadguna IGMI. 2010. Kulkul sebagai simbol budaya masyarakat Bali. https://blog.isi-dps.ac.id/ indrasadguna/?p=22 (diakses 7 April 2021).
  20. Suarna N. 2020. Made Adhi Susila ungkap rahasia buat kulkul, belajar dari tetua. https://baliexpress.jawapos.com/read/2020/04/28/191415/made-adhi-susila-ungkap-rahasia-buat-kulkul-belajar-dari-tetua (diakses 15 Maret 2021).
  21. Sugiyarti C. 2012. Pengaruh posisi memukul kentongan terhadap frekuensi yang dihasilkan. Prodi PSN Konsentrasi Fisika Program Pascasarjana UNY. Yogyakarta. (tidak dipublikasikan).
  22. Suhono B. 2010. Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan. PT Lentera Abadi, Jakarta.
  23. Sujarwo W, Arinasa IBK, Peneng IN. 2010. Inventarisasi jenis-jenis bambu yang berpotensi sebagai obat di Kabupaten Karangasem Bali. Buletin Kebun Raya 13(1): 28–34.
  24. Sumiyati F. 2007. Makna lambang dan simbol kentongan dalam masyarakat Indonesia. Jurnal Historia Vitae 21(2): 1–10.
  25. Supriatna N, Kosasih E. 2014. Bambu tali (Gigantochloa apus Kurz). Informasi singkat benih, No. 176, Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan. Jakarta.
  26. Surono. 2015. Kentongan: pusat informasi, identitas, dan keharmonisan pada masyarakat Jawa. Jurnal Patrawidya 16(1): 139–156.
  27. Walujo EB. 2004. Pengumpulan data etnobotani. dalam: Rugayah, Widjaja EA, Praptiwi (ed). Pedoman Pengumpulan data Keanekaragaman Tumbuhan. Pusat penelitian Biologi-LIPI, Bogor
  28. Widjaja EA, Karsono. 2005. Keanekaragaman bambu di Pulau Sumba. Biodiversitas 6(2): 95–99.
  29. Widjaja EA. 2001. Identikit Jenis-Jenis Bambu di Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi–LIPI, Bogor.
  30. Winarno FG. 2014. Kelapa Pohon Kehidupan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  31. Witt A, Luke Q. 2017. Guide to the naturalized and invasive plants of Eastern Africa. In: Witt A, Luke Q. (ed.) CABI: Invasive species compendium. Wallingford, UK. http://www.cabi.org/cabebooks/ebook/ 20173158959 doi:10.1079/9781786392145.0000 (Accessed 27 Agustus 2021)
  32. Yunus A, Purna IM, Kartikasari T, Rupa IW. 1994. Nilai dan fungsi kentongan pada masyarakat Bali. Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.